Minggu, 24 Agustus 2014

A.    PENGARUH METODE PEMBELAJARAN DISKUSI TERHADAP KEMAPUAN BERBICARA SISWA KELAS VII SMP-IT MA MALINGPING TAHUN  2014/2015

B.     MASALAH
1.      Latar Belakang
Bahasa memungkinkan manusia untuk saling berkomunikasi, saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual. Bahasa Indonesia memiliki kedudukan dan fungsi yang sangat penting yakni sebagai bahasa negara dan bahasa nasional. Mengingat fungsi yang diemban oleh bahasa Indonesia sangat banyak, maka kita perlu mengadakan pembinaan dan pengembangan terhadap bahasa Indonesia. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan.melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan berfikir. Tanpa adanya pembinaan dan pengembanagan tersebut bahasa Indonesia tidak akan dapat berkembang, sehingga dikhawatirkan bahasa Indonesia tidak dapat mengemban fungsi-fungsinya. Salah satu cara dalam melaksanakan pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia itu adalah melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Pembinaan dan pengembangan kemampuan dan keterampilan berbahasa yang diupayakan di sekolah berorientasi pada empat jenis keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Keempat keterampilan berbahasa tersebut berhubungan erat satu dengan yang lain dan pada dasarnya merupakan suatu kesatuan, merupakan catur tunggal.
Sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa asing mengatakan,“Manusia adalah hewan atau makhluk hidup yang pandai berbicara.“ Hal itu menunjukkan bahwa keterampilan berbicara menjadi ciri khas makhluk yang disebut  manusia. Manusia mampu berbicara dalam aneka ragam bahasa. Kemampuan seperti itu bukanlah sesuatu yang  bersifat naluriah (instinct) seperti halnya pada binatang, tetapi diperoleh melalui proses belajar dan latihan yang terus menerus.
Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang utama dan yang pertama kali dipelajari oleh manusia dalam hidupnya sebelum mempelajari keterampilan berbahasa lainnya. Sejak seorang bayi lahir, ia sudah belajar menyuarakan lambang-lambang bunyi bicara melalui tangisan untuk berkomunikasi dengan lingkungannya. Suara tangisan itu baru menandakan adanya potensi dasar kemampuan berbicara dari seorang anak yang perlu distimuli dan dikembangkan lebih lanjut oleh lingkungannya melalui berbagai latihan dan pembelajaran. Orang akan merasa terusik jika anaknya lahir tanpa suara tangisan. Orang akan merasa lebih sedih lagi jika anaknya tumbuh dewasa tanpa memiliki kemampuan berbicara secara lisan.
Setiap manusia dituntut terampil berkomunikasi, terampil menyatakan pikiran, gagasan, ide, dan perasaan. Terampil menangkap informasi-informasi yang didapat, dan terampil pula menyampaikan informasi-informasi yang diterimanya.
Keterampilan berbicara memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Kehidupan manusia setiap hari dihadapkan dalam berbagai kegiatan yang menuntut keterampilan berbicara. Contohnya dalam lingkungan keluarga, dialog selalu terjadi, antara ayah dan ibu, orang tua dan anak, dan antara anak-anak itu sendiri. Di luar lingkungan keluarga juga terjadi pembicaraan antara tetangga dengan tetangga, antar teman sepermainan, rekan kerja, teman perkuliahan dan sebagainya. Terjadi pula pembicaraan di pasar, di swalayan, di pertemuan-pertemuan, bahkan sering pula terjadi adu argumentasi dalam suatu forum. Semua situasi tersebut menuntut agar kita mampu dan terampil berbicara.
Keterampilan berbicara juga memiliki peran penting dalam pendidikan, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat luas. Proses transfer ilmu pengetahuan kepada subyek didik pada umumnya disampaikan secara lisan. Tata krama dalam pergaulan, nilai-nilai, norma-norma, dan adat kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat juga banyak diajarkan terlebih dahulu secara lisan. Hal ini berlaku dalam masyarakat tradisional maupun masyarakat modern. Kemampuan berbicara sangat penting dalam kehidupan manusia karena sebagian besar aktivitas kehidupan manusia membutuhkan dukungan kemampuan berbicara.
“Keterampilan berbicara, terutama berbicara di depan banyak orang (public speaking) kini semakin penting. Tidak cuma untuk bisnis, tetapi juga untuk pendidikan, politisi dan di kalangan birokrasi,” demikian dikatakan oleh harian Kompas edisi online Ditandaskan pula oleh Charles Bonar Sirait, penulis buku The Power of Public Speaking: Kiat Sukses Berbicara di Depan Publik, “Saat ini public speaking sedang menjadi tren, mulai dari anak-anak sampai orang tua ingin mempelajarinya.”
Berbicara merupakan suatu proses penyampaian informasi, ide atau gagasan dari pembicara kepada pendengar. Si pembicara berkedudukan sebagai komunikator sedangkan pendengar sebagai komunikan. Informasi yang disampaikan secara lisan dapat diterima oleh pendengar apabila pembicara mampu menyampaikannya dengan baik dan benar. Dengan demikian, kemampuan berbicara merupakan faktor yang sangat mempengaruhi kemahiran seseorang dalam penyampaian informasi secara lisan.
Agar pembicaraan itu mencapai tujuan, pembicara harus memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menyampaikan informasi kepada orang lain. Hal itu mengandung maksud bahwa pembicara harus memahami betul bagaimana cara berbicara yang runtut dan efektif sehingga orang lain (pendengar) dapat menangkap informasi yang disampaikan pembicara secara efektif pula.
Itulah sebabnya  dalam Kurikulum Pendidikan Nasional untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia sangat ditekankan pentingnya meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, runtut dan efektif, secara lisan maupun tulis. Karena hekekat belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi.
Pembelajaran Bahasa Indonesia yang diberikan kepada siswa di sekolah meliputi empat aspek keterampilan berbahasa, yaitu menyimak (dengan pemahaman), berbicara, membaca (dengan mengerti), dan menulis. Dari keempat macam keterampilan berbahasa itu guru melihat, mengalami dan merasakan adanya masalah pembelajaran bahasa Indonesia di Kelas VII SMP-IT MA MALINGPING, pada semester I Tahun Pelajaran 2013/2014, terutama  keterampilan berbicara secara runtut, baik dan benar dari para siswa. Kendatipun guru telah berusaha keras untuk mengatasinya melalui pembelajaran standar dan dengan menerapkan bahan belajar serta media yang ada, namun tetap saja masalah belum teratasi.
Dalam keterampilan berbicara termasuk sulit diajarkan karena menuntut kesiapan, mental, dan keberanian siswa untuk tampil didepan orang lain. Keterampilan berbicara siswa SMP-IT MA Malingping belum maksimal. Berbicara merupakan suatu keterampilan siswa untuk mengungkapkan gagasan yang ada dalam pikirannya. Berbicara adalah suatu keterampilan berbahasa yang berkembang pada kehidupan anak, yang hanya didahului keterampilan menyimak, dan pada masa tersebutlah kemampuan berujar oleh karena itu, penulis disini mengkaji keterampilan berbicara dalam meningkatkan peserta didik untuk berkomunikasi dengan baik dan benar baik secara lisan maupun tulis.
Berdasarkan pengalaman empris di lapangan diketahui bahwa kemampuan berbicara siswa dalam proses pembelajaran masih rendah. Hal itu terdeteksi pada saat siswa diminta oleh guru untuk menjelaskan letak suatu tempat sesuai denah dan petunjuk penggunaan suatu alat dengan bahasa yang runtut, baik, dan benar. Isi pembicaraan yang disampaikan oleh siswa tersebut tidak akurat dan berbelit-belit. Selain itu siswa juga berbicara tersendat-sendat sehingga isi pembicaraan menjadi tidak jelas. Ada pula di antara siswa yang tidak mau berbicara di depan kelas. Bahkan pada saat guru bertanya kepada seluruh siswa di kelas yang hanya berjumlah 40 orang, umumnya siswa lama sekali untuk menjawab pertanyaan guru. Beberapa orang siswa ada yang  tidak mau menjawab pertanyaan guru karena sepertinya malu dan takut salah menjawab. Apalagi untuk berbicara di depan kelas, para siswa belum menunjukkan keberanian. Singkatnya, aktivitas belajar dan keterampilan berbicara siswa sangat rendah. Dan, kalaupun ada beberapa dari mereka yang memiliki keberanian, sekitar 3 sampai 4 siswa (15%-21%), namun berbicaranya masih tersendat-sendat, tidak akurat dan tidak runtut.
Menurut Nuraeni (2002), “Banyak orang beranggapan, berbicara adalah suatu pekerjaan yang mudah dan tidak perlu dipelajari.” Untuk situasi yang tidak resmi barangkali anggapan itu ada benarnya, namun pada situasi resmi pernyataan tersebut jelas salah besar. Kenyataannya tidak semua siswa  berani dan mau berbicara di depan kelas, sebab mereka umumnya kurang terampil sebagai akibat dari kurangnya latihan berbicara. Untuk itu, guru bahasa Indonesia merasa perlu melatih siswa untuk berbicara. Latihan pertama kali yang perlu dilakukan guru ialah menumbuhkan keberanian siswa untuk berbicara.
Dan seperti dikatakan juga oleh Waidi  (http://www.mail.archive.com/), “Keterampilan (berbicara, pen) ini adalah keterampilan proses, sebuah keterampilan yang tidak datang seketika. Artinya, bila ingin menguasainya diperlukan banyak berlatih dan berlatih.” Lebih lanjut dikatakan, “Bicaralah saat ada kesempatan bicara, karena keterampilan berbicara hanya dapat diperoleh dengan ‘berbicara’ bukan dengan ‘belajar tentang’. Satu ons praktik bicara lebih baik daripada satu ton teori berbicara.”
Dari latar belakang permasalahan dan pemikiran tersebut, ditambah dengan hasil refleksi dan konsultasi dengan teman sejawat akhirnya diperoleh kesimpulan bahwa perlu segera dicarikan solusi alternatif sebagai upaya untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Hal itu mengingat pentingnya kaitan antara keterampilan berbicara dengan keterampilan berbahasa lainnya. Selain itu,  keterampilan berbicara siswa di sekolah dasar merupakan tumpuan utama bagi pengembangan keterampilan berbicara tingkat lanjut pada jenjang sekolah yang lebih tinggi maupun sebagai bekal kehidupan siswa kelak di tengah masyarakat.
Adapun alternatif pemecahan masalah yang dipilih untuk mengembangkan dan meningkatkan keterampilan berbicara secara runtut pada siswa Kelas VII SMP-IT MA MALINGPING ini adalah dengan menggunakan metode pembelajaran diskusi.
Media diskusi pada dasarnya suatu bentuk tukar pikiran yang teratur dan terarah, baik dalam kelompok kecil maupun dalam kelompok besar, dengan tujuan untuk mendapatkan suatu pengertian, kesepakatan, dan keputusan bersama mengenai suatu masalah. 
Metode diskusi adalah salah satu metode belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru di sekolah. Di dalam diskusi ini proses interaksi antara 2 orang atau lebih individu yang terlibat. Saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah, dapat terjadi juga semuanya aktif tidak ada yang pasif sebagai pendengar saja. Dalam pendidikan khususnya PBM, faktor metode adalah merupakan faktor yang tidak boleh diabaikan karena ikut menentukan sukses tidaknya tujuan dari pendidikan itu sendiri. Hubungan antara metode dan tujuan pendidikan bisa dikatakan hubungan sebab akibat, artinya jika metode pendidikan yang dipergunakan baik dan tepat, maka akibatnya tujuan pendidikan yang telah dirumuskan besar kemungkinan dapat tercapai dengan baik. Banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh dari penerapan metode diskusi khususnya dalam kegiatan belajar mengajar. Diantaranya mendorong siswa untuk berani berbicara dan mengemukakan pendapatnya, mendorong mereka untuk lebih siap dalam mendalami materi-materi pelajaran melalui berbagai sumber, melatih bersikap demokrasi serta mendorongnya berpartisipasi secara aktif dalam memecahkan suatu masalah.
Dipilihnya metode ini karena dipandang mampu mengajak siswa untuk berbicara. Dengan metode pembelajaran diskusi, siswa termotivasi untuk berbicara di depan kelas. Siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi. Di samping itu, diharapkan pula agar siswa mempunyai keberanian dalam berkomunikasi.
Dari uraian diatas maka penulis memberi judul pada proposal ini “Pengaruh Sistem Belajar Diskusi Terhadap Kemampuan Berbicara Siswa Kelas VII    SMP-IT MA MALINGPING”.
2.      Identifikasi Masalah
Sesuai dengan latar belakang masalah yang diuraikan pada peneliti ini, maka masalah yang dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
a.       Sejauhmana kemampuan Berbicara siswa di kelas VII SMP-IT MA Malingping?
b.      Factor-faktor apa yang mempengaruhi kemampuan  Berbicara siswa di kelas VII SMP-IT MA Malingping?
c.       Apakah metode pembelajaran diskusi pada siswa di kelas VII SMPI-IT MA Malingping?
d.      Bagaimana pengaruh metode pembelajaran diskusi pada siswa di kelas VII SMPI-IT MA Malingping
e.       Apakah   metode pembelajaran  dapat menentukan kemampuan  berbicara siswa di kelas VII SMPI-IT MA Malingping?
f.       Bagaimana pengaruh metode pembelajaran diskusi terhadap kemampuan berbicara siswa di kelas VII SMPI-IT MA Malingping ?
3.      Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah perlu dilakukan untuk menghindari meluasnya permasalahan yang akan dibahas. Pembelajaran menulis dalam penelitian ini peneliti fokuskan terhadap:
1.       Kemampuan berbicara yang menggunakan metode diskusi siswa di kelas siswa di kelas VII SMPI-IT MA Malingping?
2.       Kemampuan berbicara siswa yang menggunakan metode ekspositori pada siswa kelas VII SMPI-IT MA Malingping?
3.      Pengaruh Metode Diskusi terhadap kemapuan berbicara pada siswa kelas VII SMPI-IT MA Malingping?
4.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, adapun masalah yang perlu dibahas adalah sebagai berikut:
a.       Bagaimana kemampuan berbicara yang menggunakan metode diskusi siswa di kelas siswa di kelas VII SMPI-IT MA Malingping?
b.      Bagaimana kemampuan berbicara siswa yang menggunakan metode ekspositori pada siswa kelas VII SMPI-IT MA Malingping?
c.       Apakah Pengaruh Metode Diskusi terhadap kemapuan berbicara pada siswa kelas VII SMPI-IT MA Malingping?
5.      Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukakan ada tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, yaitu:
a.    Untuk mengetahui Kemampuan berbicara yang menggunakan metode diskusi siswa di kelas siswa di kelas VII SMPI-IT MA Malingping.
b.    Untuk mengetahui kemampuan berbicara siswa yang menggunakan metode ekspositori pada siswa kelas VII SMPI-IT MA Malingping.
c.    Untuk mengetahui pengaruh Metode Diskusi terhadap kemapuan berbicara pada siswa kelas VII SMPI-IT MA Malingping.
6.      Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi siswa, guru dan peneliti yaitu sebagai berikut:
a.       Bagi siswa, diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berbicara, sehingga siswa dapat mengungkapkan pikirannya.
b.      Bagi guru, diharapkan dapat menciptakan suasana belajar lebih menarik dan tidak membosankan siswa, meningkatkan keterampilan berbicara, siswa menciptakan pemerataan kemampuan berbicara siswa serta menciptakan inovasi lain dalam pengembangan metode pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah.
c.       Bagi peneliti, diharapkan dapat menambah wawasan dan pengalaman dalam kegiatan belajar dan mengajar khususnya dalam pembelajaran berbicara.

C.      KAJIAN TEORI
1.      Hakikat Kemampuan Berbicara
a.       Pengertian kemampuan
Menurut Mohammda Zain dalam Milman Yusdi (2010.10) mengartikan bahwa kemampuan adalah kesanggupan kecakapan kekuatan kita pada dasarnya kemampuan sudah ada pada diri seseorang.Sedangkan Anggit M. Sinaga dan Sri Hadiyati (2001.34 mendefinisikan kemampuan suatu dasar seorang dengan sadarnya berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan secara efektif dengan sangat berhasil. Sementara Robbin (2007.57) kemampuan berarti kapasitas seseorang individu untuk melakuakan beragam tugas dan suatu pekerjaan, bahwa kemampuan sebuah penilaian terkini atas apa yang dapat dilakukan seseorang.
Pada dasarnya kemampuan terdiri dari dua factor (Robbin 2007.57)
1)      Kemampuan intelektual (kemampuan yang dibutuhkan untuk melakuakan berbagai aktifitas mental berpikir menalar dan memecahkan masalah).
2)      Kemampuan fisik (kemampuan melakuakan tugas-tugasnya yang merujuk stamina keterampilan, kekuatan dan karakteristik serupa).
Berdasarakan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kemampauan adalah kecakapan atau potensi seorang manusia untuk menguasai keahlian trtentu dan mengerjakan beragam tugas dalam suatu pekerjaan atau suatu penilaian atas tindakan seseorang.
a.       Pengertian Berbicara
Berbicara merupakan suatu kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau katakata untuk mengekspresikan, menyatakan atau menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan.
Berbicara adalah suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan pendengar atau penyimak (Tarigan, 2008:16-17).
Berbicara adalah kemampuan mengungkapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekpresikan, menyatakan, dan menyampaikan pikiran, gagasan serta perasaan ( Tarigan, 1981 : 15 ).
Arsjad dan Mukti U.S (1991:17) memberikan pengertian bahwa kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan.
Menurut Nurgiyantoro (2001:276) berbicara adalah aktivitas berbahasa kedua dilakukan manusia dalam kehidupan berbahasa yaitu setelah aktivitas mendengarkan. Berdasarkan bunyibunyi bahasa yang didengarkan itulah kemudian manusia belajar mengucapkan dan akhirnya mampu untuk berbicara.
Dari uraian tersebut peneliti menyimpulkan bahwa berbicara merupakan kegiatan seseorang atau sekelompok orang mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan atau menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan kepada sekelompok orang atau individu
b.      Bentuk-Bentuk Keterampilan Berbicara
Bentuk-bentuk keterampilan berbicara menurut Tarigan (2008:24-25) secara garis besar dapat dibagi menjadi dua, yaitu berbicara di muka umum (public speaking) dan berbicara pada konferensi. Berbicara di muka umum (public speaking) mencakup empat jenis: (a) berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat memberitahukan atau melaporkan atau yang bersifat informatis (informative speaking), (b) berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat kekeluargaan atau persahabatan (fellowship speaking), (c) berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat membujuk, mengajak, mendesak, dan meyakinkan (persuasive speaking), (d) berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat merundingkan dengan tenang dan hati-hati (deliberative speaking).Berbicara pada konferensi (conference speaking) dibedakan menjadi tiga yaitu diskusi kelompok (group discussion), prosedur parlementer (parliamentary procedure), dan debat. Diskusi kelompok (group discussion) dibedakan lagi menjadi dua yaitu diskusi kelompok tidak resmi (informal) dan kelompok diskusi resmi (formal). Kemudian, debat dapat dibedakan menjadi debat kompetitif, debat parlementer, debat proposal, serta debat Lincoln-Douglas.
Menurut Hartono (2005:30) keterampilan berbicara dibagi berdasarkan jumlah partisipan, cara pelaksanaan, lawan berbicara, maksud dan tujuan berbicara, dan tingkat keformalannya.
Keterampilan berbicara berdasarkan jumlah partisipan atau jumlah lawan bicara, dapat dikelompokkan menjadi dua bentuk, yaitu: (a) berbicara perorangan dan (b) berbicara kelompok.
Bentuk keterampilan berbicara berdasarkan cara pelaksanaannya, dapat dikelompokkan menjadi dua bentuk, yaitu: berbicara secara langsung dan berbicara secara tidak langsung.
Menurut Hartono berdasarkan lawan bicara, keterampilan berbicara dapat dibedakan menjadi empat bentuk, yaitu: (a) satu lawan satu, (b) satu lawan banyak, (c) banyak lawan satu, dan (d) banyak lawan banyak. Keterampilan berbicara berdasarkan maksud atau tujuan berbicara, dapat dikelompokkan menjadi sembilan bentuk, yaitu: (a) Memberi perintah atau instruksi, (b) memberi nasehat, (c) memberi saran, (d) berpidato, (e) mengajar atau memberi ceramah, (f) berapat, (g) berunding, (h) pertemuan, (i) menginterview. Berdasarkan tingkat keformalannya, keterampilan berbicara dapat dikelompokkan menjadi tiga bentuk, yaitu: (a) berbicara formal, (b) berbicara semi formal dan (c) berbicara informal.
c.       Tujuan Berbicara
Menurut Tarigan (2008:16-17) tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, sebaiknya sang pembicara memahami segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan. Dia harus mampu mengevaluasi efek komunikasinya terhadap para pendengarnya dan harus mengetahui prinsip-prinsip yang mendasari segala situasi pembicaraan, baik secara umum maupun perorangan. Pada dasarnya berbicara mempunyai tiga maksud umum, yaitu (a) memberitahukan dan melaporkan (to inform), (b) menjamu dan menghibur (to entertain), (c) membujuk, mengajak, mendesak, dan meyakinkan (to persuade). Menurut Keraf (2001:320) tujuan yang akan dicapai dari berbicara, yaitu memberikan dorongan, menanamkan keyakinan, bertindak atau berbuat, menginformasikan atau memberitahukan dan memberi kesenangan.
1.      Memberikan dorongan
Tujuan berbicara yang bersifat mendorong dimaksudkan bahwa pembicara berusaha memberikan semangat, membangkitkan gairah atau menekankan perasaan yang kurang baik serta menunjukkan rasa hormat dan pengabdian. Reaksi yang diharapkan dari pendengar yaitu menumbuhkan ilham atau inspirasi, dan membakar semangat atau emosi pendengar.
2.      Meyakinkan
Tujuan berbicara yang berusaha untuk mempengaruhi keyakinan atau sikap mental atau intelektual para pendengar merupakan tujuan berbicara yang bersifat meyakinkan atau mempengaruhi. Alat yang tepat dan penting untuk tujuan ini adalah bentuk argumentasi.
3.      Berbuat atau Bertindak
Tujuan berbicara agar pendengar berbuat atau bertindak adalah untuk memunculkan reaksi kepada pendengar agar melakukan suatu tindakan atau perbuatan. Awalnya pembicara menanamkan suatu keyakinan kepada pendengar dengan cara memantapkan pikiran yang ada atau mengubah keyakinan pendengar agar sesuai dengan keyakinan pembicara. Tahap selanjutnya pembicara berusaha membangkitkan emosi pendengar. Tindakan atau perbuatan muncul setelah adanya keyakinan dan bangkitnya emosi pendengar.
4.      Memberitahukan
Tujuan berbicara untuk memberitahukan atau menginformasikan dimaksudkan agar pendengar mengerti tentang suatu hal, untuk memperluas bidang pengetahuan yang belum pernah diketahui.
5.      Menyenangkan
Berbicara untuk menyenangkan atau menggembirakan maksudnya pembicara berusaha membangkitkan suasana menghibur dan munculnya keceriaan pada suatu pertemuan.

b.      Hakikat Metode Pembelajaran Diskusi
a.    Pengertian Metode Pembelajaran Diskusi
Diskusi berasal dari bahasa latin yaitu discuties  atau discution yang artinya bertukar pikiran. Diskusi pada dasarnya suatu bentuk tukar pikiran yang teratur dan terarah , baik dalam kelompok kecil maupun dalam kelompok besar, dengan tujuan untuk mendapatkan suatu pengertian, kesepakatan, dan keputusan bersama mengenai suatu masalah (Tarigan, 1997:7,13 ).
Metode diskusi merupakan interaksi antara siswa dan siswa atau siswa dengan guru untuk menganalisis, memecahkan masalah, menggaji atau memperdebatkan topik  atau permasalahan tertenru.(Martinis Yamin,2006)
Diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan dan memahami keadaan siswa, serta untuk membuat keputusan (Abdul Majid:2013)
Dalam uraian tersebut dapat kita ketahui bahwa diskusi mempunyai tujuan untuk memecahkan masalah yang melibatkan orang banyak yang pada akhirnya pendengar diharapkan mempunyai pandangan dan hasil pemikiran bersama tentang sebuah masalah yang menjadi pokok diskusi tersebut.

D.      KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
1.         Kerangka Berpikir
Pelaksanaan system pembelajaran Strategi Pembelajaran Kontektual dalam peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia kelas VIISMP-IT MA Malingping, diharapkan memberikan kemampuan membaca kepada para siswanya untuk berlatih menguasai keterlibatan langsung dalam berbagai diskusi kelompok (debat).
Metode Pembelajaran diskusi telah terealisasi di kelas VII SMP-IT MA Malingping. Namun, realisasinya belum berjalan secara maksimal sehingga, terlihat siswa kurang antusias ketika guru melaksanakan metode pembelajaran ini. Sementara metode pembelajaran diskusi mempunyai dampak positif  terhadap proses belajaran mengajar, bahkan dengan metode ini dapat menumbuhkan prestasi pada siswa khususnya pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Dengan demikian penulis melihat apakah metode pembelajaran diskusi berpengaruh terhadap prestassi siswa atau sebaliknya.
Berdasarkan alasan tersebut kiranya penulis dapat mengambil dasar pemikiran bahwa pelaksanaan system metode pembelajaran diskusi seyogyanya dapat meningkatkan kemampuan membaca di SMP-IT MA Malingping. Dalam hal ini guru berkewajiban untuk membimbing kegiatan diskusi kelompok kecil tersebut.  HAL TERSEBUT DIATAS, PENULIS MENDUGA TERDAPAT PENGARUH ANTARA METODE...THP... SISSWA KELAS.

2.      Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah sebagai dugaan terhadap hubungan antara dua variable atau lebih (Kerlinger : 1973:18 dan Tucman, 1982:5). Sedangkan Sudjana (1992:215) mengartikan bahwa hipotesis adalah asumsi atau dugaan mengenai suatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu yang sering dituntut untuk melakukan pengecekannya.
Berdasarkan latar  belakang masalah dan perumusan masalah, maka hipotesis yang diajukan adalah :
a.       Kemampuan berbicara siswa dengan menggunakan metode diskusi kelas VII SMP-IT MA Malingping, Tahun Pelajaran 2013/2014, cukup baik.
b.      Kemampuan berbicara siswa yang menggunakan model pembelajaran ekspositori di kelas VII SMP-IT MA Malingping, Tahun Pelajaran 2013/2014, cukup.
c.       Terdapat pengaruh yang positif pembelajaran metode diskusi terhadap kemampuan membaca siswa di kelas VII SMP-IT MA Malingping, Tahun Pelajaran 2013/2014.

E.       METODOLOGI PENELITIAN
1.      Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMP-IT MA Malingping Kecamatan Malingping Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Rencana penelitian akan dimulai pada minggu ketiga bulan Juli 2014 sampai minggu ketiga bulan September 2014.
            Adapun perincian jadwal penelitian dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rencana Jadwal Kegiatan Penelitian


No.


    Kegiatan
Bulan
  Desember                2014
Januari
2015
Pebruari
2015
Minggu ke-
Minggu ke-
Minggu ke-
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Pengajuan proposal penelitian












2
Uji coba
Kuesioner












3
Uji validitas
Dan reabilitas












4
Penyebaran kuesioner












5
Pengumpulan data












6
Analisis data












7
Perkiraan ujian skripsi












8
Perbaikan laporan













2.        Populasi dan Sampel
a.      Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Suharsimi Arikunto 2006:130). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP-IT MA Malingping yang tercatat sebagai siswa Tahun Pelajaran 2014/2015.

Tabel 1
Populasi Penelitian

No

Kelas
Jenis Kelamin

Jumlah

Keterangan
L
P
1
VII A
25
15
40

2
VII B
22
18
40

Jumlah
47
33
80


Dalam hal ini peneliti akan membagi menjadi dua kelas
b.      Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi atau wakil dari populasi yang diteliti (Suharsimi Arikunto 2006:131).Sedangkan menurut Sugiyono, mengingat jumlah populasi kurang dari 100, maka pengambilan sampel diambil semuanya atau seluruh populasi.
Berdasarkan pendapat di atas penulis mengambil sampel dengan cara cluster random dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 2
Sampel Penelitian

No

Kelas
Jenis Kelamin

Jumlah

keterangan
L
P
1
VII A
25
15
40
Eksperimen
2
VII B
22
18
40
Kontrol
Jumlah
47
33
80


3.         Metode Penelitian
Metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode pengamatan dengan teknik korelasional, yaitu jenis penelitian yang berupaya untuk mengemukakan adak tidaknya pengaruh antara variable penelitian.
Variable penelitian terdiri dari : Metode Pembelajaran diskusi (X) dan Kemampuan Berbicara (Y).

Model pengaruh metode pembelajaran diskusi terhadap kemampuan berbicara dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini :
Y

Y

X
 





Gambar 1. Konstelasi Masalah Penelitian
Keterangan:
Y : Kemampuan Berbicara
X : Media Metode (Diskusi)
€ : Faktor-faktor lain.
4.      Instrumen
a.      Definisi Konseptual
Untuk mengetahui apakah ada hasil belajar anatara yang menggunakan metode diskusi dengan yang menggunakan metode Ekspositori maka berikut ini dijabarakan tentang definisi konseptual adalah berikut.
a.       Pembelajaran Metode diskusi merupakan interaksi antara siswa dan siswa atau siswa dengan guru untuk menganalisis, memecahkan masalah, menggaji atau memperdebatkan topik  atau permasalahan tertentu.
b.      Model pembelajaran merupakan suatu cara penyampaian informasi dengan lisan guru kepada sejumlah siswa di kelas.
c.       Hasil belajar Bahasa Indonesia adalah kemampuan yang diperoleh atau di capai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar mengajar pelajaran tersebut.
b.      Definisi Oprasional
Untuk menghindari kesalahan pengertian dari variable maka berikut ini akan dijelaskan konseptual. Dalam penelitian akan diteliti pengaruh penggunaan metode pembelajaran diskusi (x) dan kemampuan berbicara dalam variable (y).
5.      Teknik Pengumpulan Data
Dalam teknik pengumpulan data penulis melakukan tes pada akhir (post test) pembahasan dengan memberikan soal dalam pokok bahasan menyampaikan laporan dari hasil observasi.Adapun soal tersebut terlebih dahulu telah diajukan rehabilitasi dan validitasnya.
Data yang akan diolah dalam penelitian ini adalah hasil post test yang diberikan terhadap kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Adapun langkah-langkah analisis datanya adalah sebagai berikut:
1.      Mencari rata-rata hitung dari masing-masing kelompok sampel.
2.      Menghitung standar deviasi dari masing-masing kelompok untuk mengetahui penyebaran atau keragaman masing-masing kelompok.
3.      Menguji normalitas distribusi masing-masing kelompok dengan rumus X2.
4.      Jika kedua kelompok tersebut berdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan penujian homogenitas dua variable.
5.      Setelah diyakinkan bahwa dua kelompok tersebut berdistribusi normal dan variasinya homogeny maka dilanjutkan dengan uji t menghitung kesamaan rata-rata dari kedua kelompok sampel.
6.      Tekhnik Pengolahan Data
Tingkat pengujian yang digunakan adalah uji dua pihak dengan criteria jika thitung  <table  maka, disimpulkan bahwa antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak terdapat perbedaan yang disignifikan, sedangkan terdapat perbedaan yang disignifikan untuk harga yang lainnya.
Hasil tes akhir (post test) dari kedua kelompok tersebut kemudian dibagikan. Dari hasil analisa data diperoleh bukti bawa ada perbedaan positif antara yang menggunakan  Metode pembelajaran diskusi dengan yang menggunakan Model Pembelajaran Ekspositori. Di kelas VII SMP-IT MA Malingping Berdasarkan uji tersebut maka dapat dihitung dengan:

7.      Hipotesis Statistik
H0 : µ12
H1 : µ1≠µ2
H0= Tidak terdapat pengaruh penggunaan Metode Pembelajaran Diskusi terhadap kemampuan berbicara di kelas VII SMP-IT MA Malingping .
H1= Terdapat pengaruh penggunaan Metode Pembelajaran Diskusi terhadap kemampuan menyimak di kelas VII SMP-IT MA Malingping.







DAFTAR PUSTAKA

Abdurrachman Dh. Diskusi Sebagai Alat Untuk Memecahkan Masalah. BandunG FIP IKIP, 1977.

Arikunto,Suharsimi, 2006.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Peraktek. PT. RinekaCipta.
Arsjad, Maidar, Dra. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia     Diskusi         Kelompok. IKIP Jakarta : Proyek Peningkatan/Pengembangan Perguruan     Tinggi, 1979-1980.

Direktorat Penerangan Daerah Departemen Penerangan RI. Kemahiran Berbicara Di Hadapan Umum & Teknik Berdiskusi dan Bermusyawarah. Jakarta : Tanpa Tahun.

Tarigan, Berbicara sebagai suatu ketrampilan bebahasa. Bandung:ANGKASA,1988.

Yamin Martinis, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi.Jakarta:Anggota    IKAPI,2006.

Tarigan, Berbicara ssebagai Suatu Keterempilan Berbahasa. Bandung : Angkasa Tahun 2008.