A. PENGARUH
METODE PEMBELAJARAN DISKUSI TERHADAP KEMAPUAN BERBICARA SISWA KELAS VII SMP-IT
MA MALINGPING TAHUN 2014/2015
B.
MASALAH
1. Latar
Belakang
Bahasa
memungkinkan manusia untuk saling berkomunikasi, saling berbagi pengalaman,
saling belajar dari yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual. Bahasa
Indonesia memiliki kedudukan dan fungsi yang sangat penting yakni sebagai
bahasa negara dan bahasa nasional. Mengingat fungsi yang diemban oleh bahasa
Indonesia sangat banyak, maka kita perlu mengadakan pembinaan dan pengembangan
terhadap bahasa Indonesia. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin
cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan
dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan.melatih keterampilan berbahasa
berarti pula melatih keterampilan berfikir. Tanpa adanya pembinaan dan
pengembanagan tersebut bahasa Indonesia tidak akan dapat berkembang, sehingga
dikhawatirkan bahasa Indonesia tidak dapat mengemban fungsi-fungsinya. Salah
satu cara dalam melaksanakan pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia itu
adalah melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Pembinaan dan
pengembangan kemampuan dan keterampilan berbahasa yang diupayakan di sekolah
berorientasi pada empat jenis keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan
menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan
menulis. Keempat keterampilan berbahasa tersebut berhubungan erat satu dengan
yang lain dan pada dasarnya merupakan suatu kesatuan, merupakan catur
tunggal.
Sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa asing mengatakan,“Manusia adalah
hewan atau makhluk hidup yang pandai berbicara.“ Hal itu menunjukkan bahwa keterampilan
berbicara menjadi ciri khas makhluk yang disebut manusia. Manusia
mampu berbicara dalam aneka ragam bahasa. Kemampuan seperti itu bukanlah
sesuatu yang bersifat naluriah (instinct) seperti halnya pada
binatang, tetapi diperoleh melalui proses belajar dan latihan yang terus
menerus.
Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang utama dan yang
pertama kali dipelajari oleh manusia dalam hidupnya sebelum mempelajari
keterampilan berbahasa lainnya. Sejak seorang bayi lahir, ia sudah belajar
menyuarakan lambang-lambang bunyi bicara melalui tangisan untuk berkomunikasi
dengan lingkungannya. Suara tangisan itu baru menandakan adanya potensi dasar
kemampuan berbicara dari seorang anak yang perlu distimuli dan dikembangkan
lebih lanjut oleh lingkungannya melalui berbagai latihan dan
pembelajaran. Orang akan merasa terusik jika anaknya lahir tanpa suara tangisan. Orang
akan merasa lebih sedih lagi jika anaknya tumbuh dewasa tanpa memiliki
kemampuan berbicara secara lisan.
Setiap manusia dituntut terampil berkomunikasi, terampil menyatakan
pikiran, gagasan, ide, dan perasaan. Terampil menangkap informasi-informasi
yang didapat, dan terampil pula menyampaikan informasi-informasi yang
diterimanya.
Keterampilan berbicara memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan
manusia. Kehidupan manusia setiap hari dihadapkan dalam berbagai kegiatan yang
menuntut keterampilan berbicara. Contohnya dalam lingkungan keluarga, dialog selalu terjadi, antara ayah dan
ibu, orang tua dan anak, dan antara anak-anak itu sendiri. Di luar lingkungan
keluarga juga terjadi pembicaraan antara tetangga dengan tetangga, antar teman
sepermainan, rekan kerja, teman perkuliahan dan sebagainya. Terjadi pula pembicaraan di
pasar, di swalayan, di pertemuan-pertemuan, bahkan sering pula terjadi adu
argumentasi dalam suatu forum. Semua situasi tersebut menuntut agar kita mampu dan terampil berbicara.
Keterampilan berbicara juga memiliki peran penting dalam pendidikan, baik
di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat luas. Proses transfer ilmu
pengetahuan kepada subyek didik pada umumnya disampaikan secara lisan. Tata
krama dalam pergaulan, nilai-nilai, norma-norma, dan adat kebiasaan yang
berlaku dalam masyarakat juga banyak diajarkan terlebih dahulu secara lisan.
Hal ini berlaku dalam masyarakat tradisional maupun masyarakat modern.
Kemampuan berbicara sangat penting dalam kehidupan manusia karena
sebagian besar aktivitas kehidupan manusia membutuhkan dukungan
kemampuan berbicara.
“Keterampilan berbicara, terutama berbicara di depan banyak orang (public
speaking) kini semakin penting. Tidak cuma untuk bisnis, tetapi juga untuk
pendidikan, politisi dan di kalangan birokrasi,” demikian dikatakan oleh harian
Kompas edisi online Ditandaskan pula oleh Charles Bonar Sirait, penulis
buku The Power of Public Speaking: Kiat Sukses Berbicara di Depan
Publik, “Saat ini public speaking sedang menjadi tren,
mulai dari anak-anak sampai orang tua ingin mempelajarinya.”
Berbicara
merupakan suatu proses penyampaian informasi, ide atau gagasan dari pembicara
kepada pendengar. Si pembicara berkedudukan sebagai komunikator sedangkan
pendengar sebagai komunikan. Informasi yang disampaikan secara lisan dapat
diterima oleh pendengar apabila pembicara mampu menyampaikannya dengan baik dan
benar. Dengan demikian, kemampuan berbicara merupakan faktor yang sangat
mempengaruhi kemahiran seseorang dalam penyampaian informasi secara lisan.
Agar
pembicaraan itu mencapai tujuan, pembicara harus memiliki kemampuan dan
keterampilan untuk menyampaikan informasi kepada orang lain. Hal itu mengandung
maksud bahwa pembicara harus memahami betul bagaimana cara berbicara yang
runtut dan efektif sehingga orang lain (pendengar) dapat menangkap informasi
yang disampaikan pembicara secara efektif pula.
Itulah sebabnya dalam
Kurikulum Pendidikan Nasional untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia sangat
ditekankan pentingnya meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam
bahasa Indonesia yang baik dan benar, runtut dan efektif, secara lisan maupun
tulis. Karena hekekat belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi.
Pembelajaran
Bahasa Indonesia yang diberikan kepada siswa di sekolah meliputi empat aspek
keterampilan berbahasa, yaitu menyimak (dengan pemahaman), berbicara, membaca
(dengan mengerti), dan menulis. Dari keempat macam keterampilan berbahasa itu
guru melihat, mengalami dan merasakan adanya masalah pembelajaran bahasa
Indonesia di Kelas VII SMP-IT MA MALINGPING, pada semester I Tahun Pelajaran
2013/2014, terutama keterampilan berbicara secara runtut, baik dan
benar dari para siswa. Kendatipun guru telah berusaha keras untuk mengatasinya
melalui pembelajaran standar dan dengan menerapkan bahan belajar serta media
yang ada, namun tetap saja masalah belum teratasi.
Dalam keterampilan berbicara termasuk sulit diajarkan karena menuntut
kesiapan, mental, dan keberanian siswa untuk tampil didepan orang lain.
Keterampilan berbicara siswa SMP-IT MA
Malingping belum maksimal.
Berbicara merupakan suatu keterampilan siswa untuk mengungkapkan gagasan yang
ada dalam pikirannya. Berbicara adalah suatu keterampilan berbahasa yang
berkembang pada kehidupan anak, yang hanya didahului keterampilan menyimak, dan
pada masa tersebutlah kemampuan berujar oleh karena itu, penulis disini mengkaji keterampilan berbicara dalam
meningkatkan peserta didik untuk berkomunikasi dengan baik dan benar baik
secara lisan maupun tulis.
Berdasarkan
pengalaman empris di lapangan diketahui bahwa kemampuan berbicara siswa dalam
proses pembelajaran masih rendah. Hal itu terdeteksi pada saat siswa diminta
oleh guru untuk menjelaskan letak suatu tempat sesuai denah dan petunjuk
penggunaan suatu alat dengan bahasa yang runtut, baik, dan benar. Isi
pembicaraan yang disampaikan oleh siswa tersebut tidak akurat dan
berbelit-belit. Selain itu siswa juga berbicara tersendat-sendat sehingga isi
pembicaraan menjadi tidak jelas. Ada pula di antara siswa yang tidak mau
berbicara di depan kelas. Bahkan pada saat guru bertanya kepada seluruh siswa di
kelas yang hanya berjumlah 40 orang, umumnya siswa lama sekali untuk menjawab
pertanyaan guru. Beberapa orang siswa ada yang tidak mau menjawab
pertanyaan guru karena sepertinya malu dan takut salah menjawab. Apalagi untuk
berbicara di depan kelas, para siswa belum menunjukkan keberanian. Singkatnya,
aktivitas belajar dan keterampilan berbicara siswa sangat rendah. Dan, kalaupun
ada beberapa dari mereka yang memiliki keberanian, sekitar 3 sampai 4 siswa
(15%-21%), namun berbicaranya masih tersendat-sendat, tidak akurat dan tidak
runtut.
Menurut
Nuraeni (2002), “Banyak orang beranggapan, berbicara adalah suatu pekerjaan
yang mudah dan tidak perlu dipelajari.” Untuk situasi yang tidak resmi
barangkali anggapan itu ada benarnya, namun pada situasi resmi pernyataan
tersebut jelas salah besar. Kenyataannya tidak semua siswa berani
dan mau berbicara di depan kelas, sebab mereka umumnya kurang terampil sebagai
akibat dari kurangnya latihan berbicara. Untuk itu, guru bahasa Indonesia merasa
perlu melatih siswa untuk berbicara. Latihan pertama kali yang perlu dilakukan
guru ialah menumbuhkan keberanian siswa untuk berbicara.
Dan seperti
dikatakan juga oleh Waidi (http://www.mail.archive.com/), “Keterampilan (berbicara, pen) ini adalah
keterampilan proses, sebuah keterampilan yang tidak datang seketika. Artinya,
bila ingin menguasainya diperlukan banyak berlatih dan berlatih.” Lebih lanjut
dikatakan, “Bicaralah saat ada kesempatan bicara, karena keterampilan berbicara
hanya dapat diperoleh dengan ‘berbicara’ bukan dengan ‘belajar tentang’. Satu
ons praktik bicara lebih baik daripada satu ton teori berbicara.”
Dari latar
belakang permasalahan dan pemikiran tersebut, ditambah dengan hasil refleksi dan
konsultasi dengan teman sejawat akhirnya diperoleh kesimpulan bahwa perlu
segera dicarikan solusi alternatif sebagai upaya untuk mengembangkan dan
meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Hal itu mengingat pentingnya kaitan
antara keterampilan berbicara dengan keterampilan berbahasa lainnya. Selain
itu, keterampilan berbicara siswa di sekolah dasar merupakan tumpuan
utama bagi pengembangan keterampilan berbicara tingkat lanjut pada jenjang
sekolah yang lebih tinggi maupun sebagai bekal kehidupan siswa kelak di tengah
masyarakat.
Adapun
alternatif pemecahan masalah yang dipilih untuk mengembangkan dan meningkatkan
keterampilan berbicara secara runtut pada siswa Kelas VII SMP-IT MA MALINGPING ini
adalah dengan menggunakan metode pembelajaran diskusi.
Media diskusi pada dasarnya suatu bentuk tukar pikiran yang teratur dan
terarah, baik dalam kelompok kecil maupun dalam kelompok besar, dengan tujuan
untuk mendapatkan suatu pengertian, kesepakatan, dan keputusan bersama mengenai
suatu masalah.
Metode
diskusi adalah salah satu metode belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang
guru di sekolah. Di dalam diskusi ini proses interaksi antara 2 orang atau
lebih individu yang terlibat. Saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan
masalah, dapat terjadi juga semuanya aktif tidak ada yang pasif sebagai
pendengar saja. Dalam pendidikan khususnya PBM, faktor metode adalah merupakan
faktor yang tidak boleh diabaikan karena ikut menentukan sukses tidaknya tujuan
dari pendidikan itu sendiri. Hubungan antara metode dan tujuan pendidikan bisa
dikatakan hubungan sebab akibat, artinya jika metode pendidikan yang
dipergunakan baik dan tepat, maka akibatnya tujuan pendidikan yang telah
dirumuskan besar kemungkinan dapat tercapai dengan baik. Banyak sekali manfaat
yang dapat diperoleh dari penerapan metode diskusi khususnya dalam kegiatan
belajar mengajar. Diantaranya mendorong siswa untuk berani berbicara dan
mengemukakan pendapatnya, mendorong mereka untuk lebih siap dalam mendalami
materi-materi pelajaran melalui berbagai sumber, melatih bersikap demokrasi
serta mendorongnya berpartisipasi secara aktif dalam memecahkan suatu masalah.
Dipilihnya
metode ini karena dipandang mampu mengajak siswa untuk berbicara. Dengan metode
pembelajaran diskusi, siswa termotivasi untuk berbicara di depan kelas. Siswa
dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi. Di samping
itu, diharapkan pula agar siswa mempunyai keberanian dalam berkomunikasi.
Dari uraian diatas maka penulis memberi judul pada proposal ini “Pengaruh
Sistem Belajar Diskusi Terhadap Kemampuan Berbicara Siswa Kelas VII SMP-IT MA
MALINGPING”.
2.
Identifikasi Masalah
Sesuai dengan latar belakang masalah yang diuraikan pada peneliti
ini, maka masalah yang dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
a.
Sejauhmana kemampuan Berbicara
siswa di kelas VII SMP-IT MA Malingping?
b.
Factor-faktor apa yang mempengaruhi kemampuan Berbicara
siswa di kelas VII SMP-IT MA Malingping?
c.
Apakah metode pembelajaran diskusi pada siswa di kelas VII SMPI-IT MA Malingping?
d.
Bagaimana pengaruh metode pembelajaran diskusi pada siswa di kelas VII SMPI-IT MA Malingping
e.
Apakah metode pembelajaran dapat
menentukan kemampuan berbicara siswa di kelas VII SMPI-IT MA Malingping?
f.
Bagaimana pengaruh metode pembelajaran diskusi terhadap kemampuan berbicara
siswa di kelas VII SMPI-IT MA Malingping ?
3.
Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah perlu dilakukan
untuk menghindari meluasnya permasalahan yang akan dibahas. Pembelajaran
menulis dalam penelitian ini peneliti fokuskan terhadap:
1.
Kemampuan berbicara yang menggunakan metode diskusi siswa di kelas siswa di kelas VII SMPI-IT MA Malingping?
2.
Kemampuan berbicara siswa yang
menggunakan metode ekspositori
pada siswa kelas VII SMPI-IT MA Malingping?
3.
Pengaruh Metode Diskusi terhadap kemapuan berbicara pada siswa kelas VII
SMPI-IT MA Malingping?
4.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, adapun masalah yang perlu
dibahas adalah sebagai berikut:
a.
Bagaimana kemampuan berbicara yang menggunakan metode diskusi siswa di kelas siswa di kelas VII SMPI-IT MA Malingping?
b.
Bagaimana kemampuan
berbicara siswa yang menggunakan metode
ekspositori pada siswa kelas VII SMPI-IT MA Malingping?
c.
Apakah Pengaruh Metode Diskusi terhadap kemapuan
berbicara pada siswa
kelas VII SMPI-IT MA
Malingping?
5.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan
perumusan masalah yang telah dikemukakan ada tujuan yang ingin dicapai dalam
penelitian ini, yaitu:
a. Untuk mengetahui Kemampuan berbicara yang
menggunakan metode diskusi siswa di kelas siswa di kelas VII SMPI-IT MA
Malingping.
b. Untuk mengetahui kemampuan berbicara siswa
yang menggunakan metode ekspositori pada siswa kelas VII SMPI-IT MA Malingping.
c. Untuk mengetahui pengaruh Metode Diskusi
terhadap kemapuan berbicara pada siswa kelas VII SMPI-IT MA Malingping.
6.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan manfaat nyata bagi siswa, guru dan peneliti yaitu sebagai berikut:
a.
Bagi siswa, diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berbicara, sehingga siswa dapat mengungkapkan pikirannya.
b.
Bagi guru, diharapkan dapat menciptakan suasana belajar lebih
menarik dan tidak membosankan siswa, meningkatkan keterampilan berbicara, siswa menciptakan pemerataan kemampuan berbicara siswa serta menciptakan inovasi lain dalam pengembangan metode
pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah.
c.
Bagi peneliti, diharapkan dapat menambah wawasan dan pengalaman
dalam kegiatan belajar dan mengajar khususnya dalam pembelajaran berbicara.
C.
KAJIAN TEORI
1. Hakikat Kemampuan
Berbicara
a.
Pengertian kemampuan
Menurut Mohammda Zain dalam Milman Yusdi (2010.10) mengartikan
bahwa kemampuan adalah kesanggupan kecakapan kekuatan kita pada dasarnya
kemampuan sudah ada pada diri seseorang.Sedangkan Anggit M. Sinaga dan Sri
Hadiyati (2001.34 mendefinisikan kemampuan suatu dasar seorang dengan sadarnya
berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan secara efektif dengan sangat berhasil.
Sementara Robbin (2007.57) kemampuan berarti kapasitas seseorang individu untuk
melakuakan beragam tugas dan suatu pekerjaan, bahwa kemampuan sebuah penilaian
terkini atas apa yang dapat dilakukan seseorang.
Pada dasarnya kemampuan terdiri dari dua factor (Robbin 2007.57)
1)
Kemampuan intelektual (kemampuan yang dibutuhkan untuk melakuakan
berbagai aktifitas mental berpikir menalar dan memecahkan masalah).
2)
Kemampuan fisik (kemampuan melakuakan tugas-tugasnya yang merujuk
stamina keterampilan, kekuatan dan karakteristik serupa).
Berdasarakan pengertian diatas dapat
disimpulkan bahwa kemampauan adalah kecakapan atau potensi seorang manusia
untuk menguasai keahlian trtentu dan mengerjakan beragam tugas dalam suatu
pekerjaan atau suatu penilaian atas tindakan seseorang.
a.
Pengertian Berbicara
Berbicara merupakan suatu kemampuan
mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau katakata untuk mengekspresikan,
menyatakan atau menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan.
Berbicara adalah suatu alat untuk
mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan
kebutuhan-kebutuhan pendengar atau penyimak (Tarigan, 2008:16-17).
Berbicara adalah kemampuan mengungkapkan bunyi-bunyi artikulasi atau
kata-kata untuk mengekpresikan, menyatakan, dan menyampaikan pikiran, gagasan
serta perasaan ( Tarigan, 1981 : 15 ).
Arsjad dan Mukti U.S (1991:17)
memberikan pengertian bahwa kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan
bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan,
menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan.
Menurut Nurgiyantoro (2001:276)
berbicara adalah aktivitas berbahasa kedua dilakukan manusia dalam kehidupan
berbahasa yaitu setelah aktivitas mendengarkan. Berdasarkan bunyibunyi bahasa
yang didengarkan itulah kemudian manusia belajar mengucapkan dan akhirnya mampu
untuk berbicara.
Dari uraian tersebut peneliti
menyimpulkan bahwa berbicara merupakan kegiatan seseorang atau sekelompok orang
mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan atau menyampaikan
pikiran, gagasan dan perasaan kepada sekelompok orang atau individu
b. Bentuk-Bentuk Keterampilan Berbicara
Bentuk-bentuk keterampilan berbicara menurut Tarigan
(2008:24-25) secara garis besar dapat dibagi menjadi dua, yaitu berbicara di muka umum (public speaking)
dan berbicara pada konferensi. Berbicara di muka umum (public speaking)
mencakup empat jenis: (a) berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat
memberitahukan atau melaporkan atau yang bersifat informatis (informative
speaking), (b) berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat kekeluargaan atau
persahabatan (fellowship speaking), (c) berbicara dalam situasi-situasi yang
bersifat membujuk, mengajak, mendesak, dan meyakinkan (persuasive speaking),
(d) berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat merundingkan dengan tenang
dan hati-hati (deliberative speaking).Berbicara pada konferensi (conference
speaking) dibedakan menjadi tiga yaitu diskusi kelompok (group discussion),
prosedur parlementer (parliamentary procedure), dan debat. Diskusi kelompok
(group discussion) dibedakan lagi menjadi dua yaitu diskusi kelompok tidak resmi
(informal) dan kelompok diskusi resmi (formal). Kemudian, debat dapat dibedakan
menjadi debat kompetitif, debat parlementer, debat proposal, serta debat
Lincoln-Douglas.
Menurut Hartono (2005:30) keterampilan berbicara dibagi berdasarkan jumlah
partisipan, cara pelaksanaan, lawan berbicara, maksud dan tujuan berbicara, dan
tingkat keformalannya.
Keterampilan berbicara berdasarkan jumlah partisipan atau jumlah lawan
bicara, dapat dikelompokkan menjadi dua bentuk, yaitu: (a) berbicara perorangan
dan (b) berbicara kelompok.
Bentuk keterampilan berbicara berdasarkan cara pelaksanaannya, dapat
dikelompokkan menjadi dua bentuk, yaitu: berbicara secara langsung dan
berbicara secara tidak langsung.
Menurut Hartono berdasarkan lawan bicara, keterampilan berbicara dapat
dibedakan menjadi empat bentuk, yaitu: (a) satu lawan satu, (b) satu lawan
banyak, (c) banyak lawan satu, dan (d) banyak lawan banyak. Keterampilan
berbicara berdasarkan maksud atau tujuan berbicara, dapat dikelompokkan menjadi
sembilan bentuk, yaitu: (a) Memberi perintah atau instruksi, (b) memberi
nasehat, (c) memberi saran, (d) berpidato, (e) mengajar atau memberi ceramah,
(f) berapat, (g) berunding, (h) pertemuan, (i) menginterview. Berdasarkan
tingkat keformalannya, keterampilan berbicara dapat dikelompokkan menjadi tiga
bentuk, yaitu: (a) berbicara formal, (b) berbicara semi formal dan (c)
berbicara informal.
c. Tujuan Berbicara
Menurut Tarigan (2008:16-17) tujuan utama berbicara adalah untuk
berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, sebaiknya sang
pembicara memahami segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan. Dia harus mampu
mengevaluasi efek komunikasinya terhadap para pendengarnya dan harus mengetahui
prinsip-prinsip yang mendasari segala situasi pembicaraan, baik secara umum
maupun perorangan. Pada dasarnya berbicara mempunyai tiga maksud umum, yaitu
(a) memberitahukan dan melaporkan (to inform), (b) menjamu dan menghibur (to
entertain), (c) membujuk, mengajak, mendesak, dan meyakinkan (to persuade).
Menurut Keraf (2001:320) tujuan yang akan dicapai dari berbicara, yaitu
memberikan dorongan, menanamkan keyakinan, bertindak atau berbuat,
menginformasikan atau memberitahukan dan memberi kesenangan.
1. Memberikan dorongan
Tujuan berbicara yang bersifat mendorong dimaksudkan bahwa pembicara
berusaha memberikan semangat, membangkitkan gairah atau menekankan perasaan
yang kurang baik serta menunjukkan rasa hormat dan pengabdian. Reaksi yang
diharapkan dari pendengar yaitu menumbuhkan ilham atau inspirasi, dan membakar
semangat atau emosi pendengar.
2. Meyakinkan
Tujuan berbicara yang berusaha untuk mempengaruhi keyakinan atau sikap
mental atau intelektual para pendengar merupakan tujuan berbicara yang bersifat
meyakinkan atau mempengaruhi. Alat yang tepat dan penting untuk tujuan ini adalah
bentuk argumentasi.
3. Berbuat atau Bertindak
Tujuan berbicara agar pendengar berbuat atau bertindak adalah untuk
memunculkan reaksi kepada pendengar agar melakukan suatu tindakan atau
perbuatan. Awalnya pembicara menanamkan suatu keyakinan kepada pendengar dengan
cara memantapkan pikiran yang ada atau mengubah keyakinan pendengar agar sesuai
dengan keyakinan pembicara. Tahap selanjutnya pembicara berusaha membangkitkan
emosi pendengar. Tindakan atau perbuatan muncul setelah adanya keyakinan dan
bangkitnya emosi pendengar.
4. Memberitahukan
Tujuan berbicara untuk memberitahukan atau menginformasikan dimaksudkan
agar pendengar mengerti tentang suatu hal, untuk memperluas bidang pengetahuan
yang belum pernah diketahui.
5. Menyenangkan
Berbicara untuk menyenangkan atau menggembirakan maksudnya pembicara berusaha
membangkitkan suasana menghibur dan munculnya keceriaan pada suatu pertemuan.
b.
Hakikat Metode Pembelajaran Diskusi
a. Pengertian Metode Pembelajaran
Diskusi
Diskusi berasal dari bahasa latin
yaitu discuties atau discution yang artinya bertukar pikiran. Diskusi
pada dasarnya suatu bentuk tukar pikiran yang teratur dan terarah , baik dalam
kelompok kecil maupun dalam kelompok besar, dengan tujuan untuk mendapatkan
suatu pengertian, kesepakatan, dan keputusan bersama mengenai suatu masalah
(Tarigan, 1997:7,13 ).
Metode diskusi merupakan
interaksi antara siswa dan siswa atau siswa dengan guru untuk menganalisis,
memecahkan masalah, menggaji atau memperdebatkan topik atau permasalahan
tertenru.(Martinis Yamin,2006)
Diskusi adalah metode
pembelajaran yang menghadapkan pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini
adalah memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan dan memahami keadaan
siswa, serta untuk membuat keputusan (Abdul Majid:2013)
Dalam uraian tersebut dapat kita
ketahui bahwa diskusi mempunyai tujuan untuk memecahkan masalah yang melibatkan
orang banyak yang pada akhirnya pendengar diharapkan mempunyai pandangan dan
hasil pemikiran bersama tentang sebuah masalah yang menjadi pokok diskusi
tersebut.
D.
KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
1.
Kerangka Berpikir
Pelaksanaan system pembelajaran
Strategi Pembelajaran Kontektual dalam peningkatan hasil belajar siswa pada
mata pelajaran bahasa Indonesia kelas VIISMP-IT MA Malingping, diharapkan
memberikan kemampuan membaca kepada para siswanya untuk berlatih menguasai
keterlibatan langsung dalam berbagai diskusi kelompok (debat).
Metode Pembelajaran diskusi telah
terealisasi di kelas VII SMP-IT MA Malingping. Namun, realisasinya belum
berjalan secara maksimal sehingga, terlihat siswa kurang antusias ketika guru
melaksanakan metode pembelajaran ini. Sementara metode pembelajaran diskusi
mempunyai dampak positif terhadap proses
belajaran mengajar, bahkan dengan metode ini dapat menumbuhkan prestasi pada
siswa khususnya pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Dengan demikian penulis
melihat apakah metode pembelajaran diskusi berpengaruh terhadap prestassi siswa
atau sebaliknya.
Berdasarkan alasan tersebut kiranya
penulis dapat mengambil dasar pemikiran bahwa pelaksanaan system metode pembelajaran
diskusi seyogyanya dapat meningkatkan kemampuan membaca di SMP-IT MA
Malingping. Dalam hal ini guru berkewajiban untuk membimbing kegiatan diskusi
kelompok kecil tersebut. HAL TERSEBUT
DIATAS, PENULIS MENDUGA TERDAPAT PENGARUH ANTARA METODE...THP... SISSWA KELAS.
2.
Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah sebagai dugaan terhadap hubungan antara dua
variable atau lebih (Kerlinger : 1973:18 dan Tucman, 1982:5). Sedangkan Sudjana
(1992:215) mengartikan bahwa hipotesis adalah asumsi atau dugaan mengenai suatu
hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu yang sering dituntut untuk melakukan
pengecekannya.
a.
Kemampuan berbicara siswa dengan
menggunakan metode diskusi kelas VII SMP-IT MA Malingping,
Tahun Pelajaran 2013/2014, cukup baik.
b.
Kemampuan berbicara siswa yang
menggunakan model pembelajaran ekspositori di kelas VII SMP-IT MA Malingping, Tahun Pelajaran 2013/2014, cukup.
c.
Terdapat pengaruh yang positif pembelajaran metode diskusi terhadap kemampuan membaca
siswa di kelas VII SMP-IT MA Malingping,
Tahun Pelajaran 2013/2014.
E.
METODOLOGI PENELITIAN
1.
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMP-IT MA
Malingping Kecamatan Malingping Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Rencana
penelitian akan dimulai pada minggu ketiga bulan Juli 2014 sampai minggu ketiga
bulan September 2014.
Adapun perincian
jadwal penelitian dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Rencana Jadwal Kegiatan Penelitian
|
No.
|
Kegiatan
|
Bulan
|
||||||||||||||||||||||||
|
Desember 2014
|
Januari
2015
|
Pebruari
2015
|
||||||||||||||||||||||||
|
Minggu ke-
|
Minggu ke-
|
Minggu ke-
|
||||||||||||||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|||||||||||||||
|
1
|
Pengajuan proposal penelitian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||
|
2
|
Uji coba
Kuesioner
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||
|
3
|
Uji validitas
Dan reabilitas
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||
|
4
|
Penyebaran kuesioner
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||
|
5
|
Pengumpulan data
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||
|
6
|
Analisis data
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||
|
7
|
Perkiraan ujian skripsi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||
|
8
|
Perbaikan laporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||
2.
Populasi dan Sampel
a.
Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Suharsimi Arikunto
2006:130). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP-IT
MA Malingping yang tercatat sebagai siswa Tahun Pelajaran 2014/2015.
Tabel 1
Populasi
Penelitian
|
No
|
Kelas
|
Jenis Kelamin
|
Jumlah
|
Keterangan
|
|
|
L
|
P
|
||||
|
1
|
VII A
|
25
|
15
|
40
|
|
|
2
|
VII B
|
22
|
18
|
40
|
|
|
Jumlah
|
47
|
33
|
80
|
|
|
Dalam hal ini
peneliti akan membagi menjadi dua kelas
b. Sampel
Sampel adalah
sebagian dari populasi atau wakil dari populasi yang diteliti (Suharsimi
Arikunto 2006:131).Sedangkan menurut Sugiyono, mengingat jumlah populasi kurang
dari 100, maka pengambilan sampel diambil semuanya atau seluruh populasi.
Berdasarkan pendapat di atas penulis
mengambil sampel dengan cara cluster random dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 2
Sampel
Penelitian
|
No
|
Kelas
|
Jenis Kelamin
|
Jumlah
|
keterangan
|
|
|
L
|
P
|
||||
|
1
|
VII A
|
25
|
15
|
40
|
Eksperimen
|
|
2
|
VII B
|
22
|
18
|
40
|
Kontrol
|
|
Jumlah
|
47
|
33
|
80
|
|
|
3.
Metode Penelitian
Metode penelitian
yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode pengamatan dengan teknik
korelasional, yaitu jenis penelitian yang berupaya untuk mengemukakan adak
tidaknya pengaruh antara variable penelitian.
Variable
penelitian terdiri dari : Metode Pembelajaran diskusi (X) dan Kemampuan
Berbicara (Y).
|
|
|
Y
Y
|
|
X
|
Gambar 1.
Konstelasi Masalah Penelitian
Keterangan:
Y : Kemampuan Berbicara
X : Media Metode (Diskusi)
€ : Faktor-faktor lain.
4.
Instrumen
a.
Definisi Konseptual
Untuk mengetahui apakah ada hasil
belajar anatara yang menggunakan metode diskusi dengan yang menggunakan metode
Ekspositori maka berikut ini dijabarakan tentang definisi konseptual adalah
berikut.
a. Pembelajaran Metode diskusi merupakan interaksi antara siswa dan siswa atau siswa dengan
guru untuk menganalisis, memecahkan masalah, menggaji atau memperdebatkan
topik atau permasalahan tertentu.
b.
Model pembelajaran merupakan suatu cara penyampaian informasi
dengan lisan guru kepada sejumlah siswa di kelas.
c.
Hasil belajar Bahasa Indonesia adalah kemampuan yang diperoleh atau
di capai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar mengajar pelajaran
tersebut.
b.
Definisi Oprasional
Untuk menghindari kesalahan
pengertian dari variable maka berikut ini akan dijelaskan konseptual. Dalam
penelitian akan diteliti pengaruh penggunaan metode pembelajaran diskusi (x)
dan kemampuan berbicara dalam variable (y).
5.
Teknik Pengumpulan Data
Dalam teknik pengumpulan data penulis melakukan tes pada akhir
(post test) pembahasan dengan memberikan soal dalam pokok bahasan menyampaikan
laporan dari hasil observasi.Adapun soal tersebut terlebih dahulu telah
diajukan rehabilitasi dan validitasnya.
Data yang akan diolah dalam
penelitian ini adalah hasil post test yang diberikan terhadap kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol. Adapun langkah-langkah analisis datanya adalah
sebagai berikut:
1.
Mencari rata-rata hitung dari masing-masing kelompok sampel.
2.
Menghitung standar deviasi dari masing-masing kelompok untuk
mengetahui penyebaran atau keragaman masing-masing kelompok.
3.
Menguji normalitas distribusi masing-masing kelompok dengan rumus X2.
4.
Jika kedua kelompok tersebut berdistribusi normal, maka dilanjutkan
dengan penujian homogenitas dua variable.
5.
Setelah diyakinkan bahwa dua kelompok tersebut berdistribusi normal
dan variasinya homogeny maka dilanjutkan dengan uji t menghitung kesamaan
rata-rata dari kedua kelompok sampel.
6.
Tekhnik Pengolahan Data
Tingkat pengujian yang digunakan
adalah uji dua pihak dengan criteria jika thitung <table maka, disimpulkan bahwa antara kelompok
kontrol dan kelompok eksperimen tidak terdapat perbedaan yang disignifikan,
sedangkan terdapat perbedaan yang disignifikan untuk harga yang lainnya.
Hasil tes akhir (post test) dari
kedua kelompok tersebut kemudian dibagikan. Dari hasil analisa data diperoleh
bukti bawa ada perbedaan positif antara yang menggunakan Metode pembelajaran diskusi dengan yang
menggunakan Model Pembelajaran Ekspositori. Di kelas VII SMP-IT MA Malingping
Berdasarkan uji tersebut maka dapat dihitung dengan:
7.
Hipotesis Statistik
H0 : µ1=µ2
H1 : µ1≠µ2
H0=
Tidak terdapat pengaruh penggunaan Metode Pembelajaran Diskusi terhadap
kemampuan berbicara di kelas VII SMP-IT MA Malingping .
H1=
Terdapat pengaruh penggunaan Metode Pembelajaran Diskusi terhadap kemampuan
menyimak di kelas VII SMP-IT MA Malingping.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrachman Dh. Diskusi Sebagai Alat Untuk Memecahkan Masalah.
BandunG FIP IKIP, 1977.
Arikunto,Suharsimi, 2006.Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Peraktek. PT. RinekaCipta.
Arsjad, Maidar, Dra. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia
Diskusi
Kelompok. IKIP Jakarta : Proyek Peningkatan/Pengembangan Perguruan
Tinggi, 1979-1980.
Direktorat Penerangan Daerah Departemen Penerangan RI. Kemahiran
Berbicara Di Hadapan Umum & Teknik Berdiskusi dan Bermusyawarah.
Jakarta : Tanpa Tahun.
Tarigan, Berbicara sebagai suatu ketrampilan bebahasa. Bandung:ANGKASA,1988.
Yamin Martinis, Strategi
Pembelajaran Berbasis Kompetensi.Jakarta:Anggota
IKAPI,2006.
Tarigan, Berbicara ssebagai Suatu
Keterempilan Berbahasa. Bandung : Angkasa Tahun 2008.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar